BerandaBerita NasionalBorneo ZoneHumanioraPeristiwa

Kisah Pilu Pelajar SMK di Samarinda Berpulang Akibat Sepatu Kekecilan

203
×

Kisah Pilu Pelajar SMK di Samarinda Berpulang Akibat Sepatu Kekecilan

Sebarkan artikel ini

Foto/ist

Jejakborneonews.com, SAMARINDA – Sebuah kisah menyentuh hati datang dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang remaja berusia 16 tahun bernama Mandala Risky Saputra  harus mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan sakit yang berawal dari hal yang mungkin bagi banyak orang dianggap sepele, yaitu sepatu sekolah yang sudah tidak muat lagi.
Kepergian pelajar SMKN 4 Samarinda  ini pada Jumat (24/4/2026) lalu tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarganya, tetapi juga membuka mata banyak pihak tentang perjuangan di balik kemiskinan.
Sepatu Kekecilan yang Tetap Dipakai
Mandala yang tinggal di kawasan Sungai Pinang Luar Kota Samarinda adalah seorang anak yatim yang tinggal bersama ibu dan empat saudaranya. Karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ia tidak tega meminta sepatu baru meski kakinya terus tumbuh besar.
Sejak duduk di kelas satu, ia mengenakan sepatu ukuran 43. Namun saat beranjak ke kelas dua, ukuran kakinya sudah mencapai 45. Karena tidak ada biaya untuk membeli yang baru, sepatu lama tersebut tetap ia paksa gunakan. Agar tidak terlalu sakit, ia mengakalinya dengan memberi ganjalan busa di dalam sepatu.
Keluhan Muncul Saat Magang
Rasa sakit mulai memuncak saat Mandala menjalani kegiatan magang di sebuah pusat perbelanjaan. Pekerjaan yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama membuat kakinya yang terjepit sepatu semakin menderita.
Lama-kelamaan kaki Mandala mulai membengkak. Rasa nyeri itu tidak hanya berhenti di kaki, tapi mulai menjalar hingga ke pinggang dan kepalanya. Sang ibu, Ratnasari, yang sehari-hari bekerja keras menjual risoles keliling, awalnya mengira itu hanya kelelahan biasa. Namun, dalam hitungan minggu, bengkak di punggung kaki Mandala semakin membesar dan rasa sakitnya menjadi sangat hebat.
Perjuangan Terakhir sang Anak Yatim
Meski menahan rasa sakit yang luar biasa, Mandala dikenal sebagai anak yang tegar. Ia tetap masuk magang dan menjalankan tugasnya. Ia baru mengeluh kepada ibunya saat sudah sampai di rumah.
Kondisinya semakin memprihatinkan sehari sebelum ia meninggal dunia. Pihak keluarga sempat membawanya ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan. Mandala sempat merasa sedikit tenang setelah mendapat suntikan medis, namun takdir berkata lain. Ia dinyatakan meninggal dunia tak lama kemudian.
Perhatian dari Aktivis Anak
Kasus ini pun mendapat perhatian serius dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak atau TRC PPA Kaltim. Ketua tim, Rina Zainun, yang mengunjungi rumah duka merasa sangat prihatin melihat kondisi keluarga Mandala yang serba kekurangan.
Kisah Mandala menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sekitar kita, masih ada anak-anak hebat yang rela menahan sakit dan mengesampingkan keinginan demi tidak membebani orang tuanya yang sedang kesulitan. Selamat jalan Mandala, perjuanganmu kini telah usai. Ary/###

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *