Jejakborneonews.com, Banjar – Pohon berukuran besar jenis merbau atau disebut juga pohon anglai oleh masyarakat lokal ini berdiri kokoh di tengah kawasan danau atau waduk Riam Kanan. Tepatnya di jalur persimpangan sungai menuju Desa Belangian dan Paau. Walaupun sudah mati, pohon ini tetap berdiri tegak bahkan menjadi penanda terjadi banjir besar di sekitarnya.
Pada batang pohon bagian atas, terdapat tanda yang dibuat warga Desa Belangian. Apabila air mencapai ketinggian tanda itu maka terjadi banjir besar di wilayah sekitarnya.
“Pohon ini menjadi penanda banjir bagi masyarakat sekitar, ada tanda dibuat di batang pohon itu. Dimana ketinggian air pernah mencapai tanda itu pada saat peristiwa banjir di Kalsel pada tahun 2021 tepatnya pada tanggal 15 Januari,” kata salah satu anggota Badan Pengelola Geopark Meratus Ali Mustofa kepada jejakborneonews.com beberapa waktu lalu.
Pohon ini juga menjadi pengingat atau saksi bisu peristiwa banjir besar yang pernah melanda sebagian kabupaten/kota di Kalimantan Selatan pada tahun 2021 silam..
Pohon tersebut dikenal sebagai saksi bisu Ba’ah pada tahun 2021 silam. Ba’ah dalam Bahasa Banjar berarti Banjir.
Pohon saksi bisu Ba’ah ini ditetapkan masuk dalam situs Geopark Meratus. Pada dasar danau tersusun atas batuan hasil kejadian bumi (geologi) yang berasal dari Formasi Manungul yang berumur 59-65 juta tahun yang lalu (Kapur Akhir) dan diendapkan pada lingkungan pengendapan kipas bawah laut ini.
Pohon Anglai termasuk dalam jenis kayu yang keras dan memiliki daya tahan yang tinggi.
Selain itu pohon Anglai memiliki pertumbuhan yang sedang hingga besar dengan ketinggian bisa mencapai 50 meter. Keberadaan pohon ini menjadi menarik, karena pada pohon ini diberi penanda ketinggian batas banjir atau dalam Bahasa Banjar disebut Ba’ah. Ary











