
Foto : Kadishut Kalsel Hj Fatimatuzzahra menjelaskan program penanaman RBP REDD+ di lahan seluas 250 hektar di lima lokasi pada tahun 2025
Jejakborneonews.com, Banjarbaru – Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin diwakili Asisten Bidang Kemasyarakatan Dan SDM Mursyidah Aminy bersama jajaran Forkopimda melaksanakan penanaman pohon di lahan milik Pemprov Kalsel kawasan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, Kamis (27/11/2025). Penanaman yang diprakarsai Dinas Kehutanan Kalsel ini juga diikuti jajaran SKPD lingkup Pemprov Kalsel, UPT Kementerian Kehutanan, seluruh UPTD lingkup Dishut Kalsel, Pemko Banjarbaru, mitra kerja hingga berbagai organisasi.
Aksi penanaman pohon menandai dimulainya (kick offf) pelaksanaan implementasi program RBP REDD+ (Results-Based Payment for Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation) tahun 2025 di Kalsel, sebuah program yang didanai organisasi pendonor global melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan tujuan pengurangan emisi gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan.
Gubernur Kalsel Muhidin secara tertulis menyampaikan Pemprov Kalsel terus melakukan upaya nyata dalam rangka mengatasi lahan kritis sekaligus menahan laju deforestasi dan degradasi hutan dan lahan.
Gubernur menyampaikan keyakinannya jumlah lahan kritis di Kalsel bakal dapat terus berkurang.
Percepatan rehabilitasi dan konservasi dalam rangka mengurangi lahan kritis dan menahan laju deforestasi terus dilakukan salah satunyamelalui program RBP REDD+ ini. Melalui program ini Gubernur Kalsel mengharapkan dapat berjalan efektif, tepat sasaran dan berdampak nyata bagi kelestarian hutan dan lingkungan di Kalimantan Selatan.
Sementara Kadishut Kalsel Hj Fatimatuzzahra usai penanaman menjelaskan di Kalimantan Selatan program penanaman RBP REDD+ ini dilaksanakan di lima titik dengan total lahan ditanami untuk tahun 2025 ini seluas 250 hektar. “Selain di lahan Pemprov Kalsel di Sei Tiung Banjarbaru, juga dilaksanakan di Kotabaru, HST, Banjar, dan HSU,” kata Kadishut.
Sementara untuk di lahan Pemprov Kalsel, dilakukan penanaman seluas 100 hektar dari 300 hektar lahan yang ada,” katanya.
Ada 4 blok penanaman, dua blok ditanami buah buahan, satu blok khusus pohon ulin dan satu blok lagi eucalyptus. Masing – masing blok akan dipisahkan jalan inspeksi untuk pemeliharaan.
Provinsi Kalsel sendiri terpilih melaksanakan program RBP REDD+ ini berdasar SK Kementerian LHK dan masuk lima besar dalam kinerja pengurangan lahan kritis dan emisi gas rumah kaca.
Untuk Program RBP REDD+ Kalsel dapat dana insentif total senilai Rp 50 M. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk program rehabilitasi lahan kritis, juga digunakan untuk peningkatan kapasitas pengamanan hutan dan pencegahan Karhutla.
“Ketiga hal ini saling berkaitan, walaupun penanaman habis – habisan namun tanpa pengendalian kawasan hutan dan pencegahan Karhutla maka pengurangan lahan kritis tak akan bisa berhasil,” jelasnya.
Program penanaman REDD+ selain bertujuan Mencegah dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan, juga meningkatkan tutupan hutan dan keanekaragaman hayati serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ary











