BerandaBerita NasionalBorneo ZoneEkonomi & BisnisLintas Kalsel

Kalsel Kekurangan 22 Ribu Indukan Sapi

143
×

Kalsel Kekurangan 22 Ribu Indukan Sapi

Sebarkan artikel ini

Jejakborneonews.com, BANJARBARU Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Disbunnak sedang tancap gas mengejar mimpi besar: swasembada daging sapi. Menariknya, cara yang dipakai bukan cara biasa, melainkan dengan “mengeroyok” potensi lahan yang ada lewat program kolaborasi lintas sektor.
Melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, dicetuskanlah program bernama P2SBPTKP. Nama programnya memang panjang, tapi intinya sederhana: mengintegrasikan ternak sapi dengan lahan perkebunan, tanaman pangan, kehutanan, hingga lahan pertambangan.
Kenapa Harus “Dikeroyok”?
Selama ini, pemenuhan daging sapi di Banua masih jadi tantangan besar. Bayangkan saja, dalam setahun warga Kalsel butuh sekitar 7,1 juta kilogram daging sapi atau setara dengan 57.645 ekor sapi.
Untuk bisa mandiri dan tidak tergantung pasokan luar, Kalsel minimal harus punya populasi 260.389 ekor sapi potong. Nah, untuk mencapai angka itu, kita butuh “pabriknya” alias indukan sapi sebanyak 53.889 ekor. Saat ini kita baru punya sekitar 31 ribu indukan, jadi masih kurang sekitar 22 ribu ekor lagi untuk mencapai target di tahun 2029.
Sinergi Cerdas: Limbah Jadi Pakan, Lahan Jadi Kandang
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, menjelaskan bahwa program ini adalah solusi cerdas dan ramah lingkungan.
“Melalui program ini, kita tidak cuma genjot produksi sapi, tapi juga jaga lingkungan. Petani dan peternak lokal bisa dapat penghasilan tambahan,” ujar Suparmi di Banjarbaru, Rabu (11/3/2026).
Bayangkan skemanya:
* Di lahan perkebunan & kehutanan: Sapi bisa dilepasliarkan dengan pengawasan atau memanfaatkan lahan di bawah pohon.
* Di lahan pertanian: Limbah sisa panen (seperti jerami atau jagung) tidak dibuang percuma, tapi diolah jadi pakan sapi yang bergizi.
* Di lahan tambang: Memanfaatkan lahan reklamasi sebagai area hijau untuk pakan ternak.
Gotong Royong Demi Kesejahteraan
Suparmi menegaskan, pemerintah tidak bisa jalan sendirian. Keberhasilan program P2SBPTKP ini sangat bergantung pada “keroyokan” atau kolaborasi antara pemerintah, pengusaha tambang/kebun, serta masyarakat peternak itu sendiri.
Jika sinergi ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi Kalsel tidak hanya swasembada, tapi juga jadi lumbung daging sapi yang menyejahterakan masyarakatnya. Ary/MC Kalsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *