Jejakborneonews.com, BARITO KUALA – Di balik riuhnya pembagian bantuan darurat dari Pemprov Kalsel pada Jumat (16/1/2026) lalu, tersimpan wajah-wajah lesu para petani di Desa Tabing Rimbah, Kabupaten Barito Kuala (Batola). Bagi mereka, banjir bukan sekadar air yang masuk ke dalam rumah, melainkan hilangnya tumpuan hidup yang sudah dirawat berbulan-bulan.
Dari 667 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut, sebanyak 457 KK terdampak langsung. Sebanyak 382 rumah warga terendam banjir.
Sebagian yang berprofesi sebagai petani hanya bisa menatap nanar ke arah hamparan sawah mereka. Air yang menggenang diam, seolah enggan beranjak, telah mengubah ladang rezeki menjadi lautan duka.
Duka 300 Hektar Sawah yang “Tenggelam”
Bahtiar Rifani, salah satu warga yang menjadi penyambung lidah para petani, mengisahkan betapa perihnya kondisi saat ini. Sekitar 300 hektar sawah bibit unggul dipastikan gagal panen total. Impian untuk melihat butir padi menguning sirna berganti keruhnya air banjir.
“Banjir di sini berbeda, airnya diam (statis). Kalau airnya tidak mengalir ke pembuangan akhir menuju Sungai Barito, sawah kami akan terus terendam. Hasilnya? Gagal panen total,” ungkap Bahtiar dengan nada getir.
Bagi petani, gagal panen adalah mimpi buruk paling nyata. Modal yang sudah dikeluarkan dan tenaga yang terkuras kini terancam jadi utang dan perut yang lapar.
Sekolah yang Jauh, Jalan yang Lumpuh
Penderitaan warga Tabing Rimbah tak berhenti di pematang sawah. Infrastruktur desa dilaporkan luluh lantak. Jalan utama yang menjadi urat nadi mobilitas warga rusak parah tergerus air.
Pemandangan memilukan terlihat saat anak-anak sekolah harus berjuang melewati akses jalan yang sulit hanya untuk menuntut ilmu. Mobilitas warga tersendat, ekonomi desa seolah berhenti berdenyut. Dari 667 KK di desa ini, 382 rumah warga sudah “terkepung” air yang tak kunjung surut.
Mendamba Solusi, Bukan Sekadar Bantuan Sesaat
Meski bersyukur atas bantuan logistik yang datang, warga sadar bahwa mi instan atau sembako tidak akan menyelesaikan akar masalah mereka. Air yang statis butuh saluran pembuangan yang lancar menuju Sungai Barito.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang. Kami butuh perbaikan tata kelola air agar kejadian ini tidak terulang setiap tahun. Selain itu, peninggian struktur rumah warga juga sangat mendesak,” harap Bahtiar.
Warga Tabing Rimbah kini hanya bisa berdoa, agar langit tak lagi menumpahkan tangisnya, dan pemerintah segera mendengar keluhan tentang saluran air yang tersumbat—satu-satunya harapan agar desa mereka kembali kering dan sawah mereka bisa kembali menghijau. Ary











