BerandaBorneo ZoneHumanioraLintas KalselPeristiwa

Habib Jindan dan Guru Busu Kupas Makna Isra Mi’raj di Depan ASN Pemprov Kalsel

100
×

Habib Jindan dan Guru Busu Kupas Makna Isra Mi’raj di Depan ASN Pemprov Kalsel

Sebarkan artikel ini

Jejakborneonews.com, BANJARMASIN – Gema syair Maulid Habsyi dari Habib Muhsin Al Hamid seketika mengubah suasana Gedung Mahligai Pancasila menjadi syahdu, Jumat (16/1/2026) pagi. Di bawah pilar-pilar gedung bersejarah itu, Gubernur Kalsel H. Muhidin bersama jajaran ASN Pemprov Kalsel berkumpul dalam satu barisan: meresapi kembali perjalanan agung Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha.

Peringatan Isra Mi’raj 1447 H kali ini terasa istimewa. Tidak hanya dihadiri oleh tokoh Banua, tapi juga menghadirkan dua figur ulama kharismatik, Habib Jindan bin Novel dari Tangerang dan ulama lokal yang dicintai masyarakat, KH. Muhammad Qomaruddin atau Guru Busu.

Pesan Gubernur: Shalat dan Amalan Bulan Rajab

Dalam sambutannya, Gubernur H. Muhidin mengingatkan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar dongeng tahunan. Ia adalah pengingat keras bagi setiap Muslim untuk memperbaiki kualitas komunikasi dengan Sang Pencipta melalui shalat.

“Kisah ini adalah pelajaran tentang tanda kekuasaan Allah dan gambaran balasan bagi manusia. Bukan sekadar cerita, tapi tuntunan hidup,” ujar Muhidin.

Menariknya, Gubernur juga membagikan “oleh-oleh” spiritual bagi warga Banua terkait amalan Jumat terakhir bulan Rajab. Beliau menganjurkan membaca “Ahmadu Rasûlullah Muhammadu Rasûlullah” sebanyak 35 kali saat khatib menyampaikan khutbah kedua. “Ini adalah ikhtiar kita meningkatkan amalan di bulan mulia,” tambahnya.

Habib Jindan: Masjid adalah Pusat Energi

Tampil di atas podium, Habib Jindan bin Novel membawa perspektif mendalam tentang kedudukan masjid. Pimpinan Yayasan Al Fachriyah ini menegaskan mengapa Allah memilih Masjidil Aqsa sebagai titik transit Rasulullah sebelum naik ke langit ke-7.

“Allah memperjalankan Rasulullah dari satu masjid ke masjid lain. Ini adalah sinyal bahwa masjid harus menjadi pusat ilmu, pusat ibadah, dan pembinaan akhlak. Keberkahan itu bermula dari sana,” tutur Habib Jindan dengan nada yang tenang namun berwibawa.

Sentilan Guru Busu: Manusia yang ‘Gila’ Amanah

Jika Habib Jindan berbicara soal spiritualitas ruang, Guru Busu memberikan “sentilan” humanis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pejabat dan pegawai yang hadir.

Beliau menceritakan satu fragmen saat Rasulullah melihat orang yang memikul beban kayu berat. Meski sudah tidak sanggup, orang tersebut justru minta bebannya ditambah.

“Itu adalah simbol manusia yang sudah diberi amanah melebihi kemampuannya, tapi karena nafsu dan keserakahan, malah minta tambah lagi,” kata Guru Busu yang disambut keheningan para hadirin. Pesan ini menjadi pengingat bagi para abdi negara bahwa setiap jabatan dan umur adalah tanggung jawab yang akan ditimbang di akhirat.

Sinergi Pemimpin dan Ulama

Acara ini juga menjadi simbol harmonisnya kepemimpinan di Kalsel. Tampak hadir Wakil Gubernur H. Hasnuryadi Sulaiman, Ketua TP PKK Hj. Fathul Jannah, serta jajaran Forkopimda seperti Kabinda Kalsel Brigjen Pol. Nurrullah dan Sekdaprov H. Muhammad Syarifuddin.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Zaidi Herniansyah (Qori Terbaik MTQN 2025) semakin melengkapi kemegahan acara yang ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan bumi Kalimantan Selatan. Adpim Kalsel/Ary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *