Foto: Potret Kawasan pegunungan di Awang Bangkal Timur
Jejakborneonews.com, BANJARMASIN – Di tengah perjuangan menghadapi dampak banjir, ada kabar dari sektor lingkungan hidup kita. Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Selatan kembali mengklaim telah berhasil menekan luas lahan kritis dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini terungkap saat rapat penting antara Dishut Kalsel dan Komisi II DPRD Kalsel di Banjarmasin, Jumat (9/1/2026). Rapat tersebut awalnya membahas soal ketahanan pangan pascabanjir, namun urusan “menghijaukan kembali” Banua menjadi sorotan utama.
Angkanya Terus Turun
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra (yang akrab disapa Bu Aya), membeberkan data. Ternyata, lahan-lahan yang dulunya gersang atau rusak, perlahan mulai pulih kembali.
Coba kita intip perbandingannya:
* Tahun 2013: Masih ada 640 hektare lahan kritis.
* Tahun 2015: Turun jadi 511 hektare.
* Tahun 2022: Berkurang lagi ke 478 hektare.
* Tahun 2024: Sisa 378 hektare saja!
“Ini adalah indikator penting bahwa program pemulihan lingkungan kita berhasil. Angkanya terus turun secara positif,” kata Bu Aya.
Paparan Kadishut Kalsel kembali mengulang keterangannya ke media saat di Sungai Tiung Cempaka Banjarbaru saat penanaman program REDD+ 27 November 2025.
Bahkan menurutnya, Pengurangan lahan kritis tersebut berkurang hampir 50 persen bila dihitung sejak tahun 2013 silam.
Keberhasilan mengurangi lahan kritis ini tak lepas program kerja berkelanjutan jajaran Dishut Kalsel dengan dukungan penuh kebijakan dari Gubernur Kalsel dan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian LH.
“Selain program penanaman kita terus melaksanakan peningkatan tutupan lahan, pengurangan perambahan kawasan hutan hingga pencegahan Karhutla,” jelas Bu Aya. Ary











