BerandaBerita NasionalBorneo ZoneHumanioraLintas KalselPeristiwa

BPBD Kalsel : Jumlah Karhutla 2025 Menurun

558
×

BPBD Kalsel : Jumlah Karhutla 2025 Menurun

Sebarkan artikel ini

Foto : Kabid Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kalsel Bambang Dedi Mulyadi 

Jejakborneonews.com, Banjarbaru – Pengendalian bencana  Karhutla di Kalimantan Selatan pada musim kemarau tahun 2025, dinilai berhasil.

Data dilansir BPBD Kalsel  hingga 25 Agustus 2025 lalu luas lahan terdampak Karhutla di Kalsel hanya  427  hektar dengan jumlah kejadian Karhutla 197 kali. Sementara jumlah titik panas hanya  2221 titik.

Hal ini berbeda dibandingkan tahun 2024 lalu, luasan lahan terdampak Karhutla mencapai  1326 hektar dengan jumlah kejadian Karhutla sebanyak 366 kali. Sementara jumlah titik panas sepanjang 2024 mencapai 6349 titik.

Salah satu kunci keberhasilan adalah langkah mitigasi   sesuai instruksi Gubernur Kalsel H Muhidin.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan Drs Gusti Yanuar Noor Rifai, MSi melalui Kabid Kesiapsigaan Bencana Bambang Dedi Mulyadi mengungkapkan langkah Mitigasi yang secara masif sebelum musim kemarau adalah  salah satu kunci  utama pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.

“Kegiatan  Edukasi Komunikasi dan Informasi yang masif baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat serta kekuatan kolaborasi bersama seluruh pihak menjadikan penanganan karhutla di Kalsel hingga hari ini boleh dibilang efektif,” kata Bambang  kepada jejakborneonews.com Rabu (27/8/2025).

Bambang mengatakan, keberhasilan pengendalian Karhutla ini hasil  kolaborasi semua pihak termasuk TNI Polri dan pemerintah pusat, swasta hingga masyarakat.
Pembasahan  lahan gambut dan  bantuan OMC lebih awal dari Kementerian Lingkungan Hidup serta respons  cepat BNPB RI menyediakan  heli patroli dan heli Water boombing. “Langkah strategis mitigasi,  Gubernur Kalsel H Muhidin mengusulkan  OMC dan bantuan penanganan Karhutla sehingga dampak kebakaran  lahan dan hutan di Kalsel dapat ditekan seminimal mungkin dan hingga hari ini masih dapat dikendalikan,” pungkas Bambang. Ary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *