BerandaBorneo ZoneLintas KalselPeristiwa

Sebulan Terendam Banjir, Warga Jejangkit Batola Andalkan Jukung

227
×

Sebulan Terendam Banjir, Warga Jejangkit Batola Andalkan Jukung

Sebarkan artikel ini

Foto: Banjir rendam sekolah SDN 1 Sampurna sehingga aktivitas belajar lumpuh

Jejakborneonews.com, BARITO KUALA – Kondisi banjir berbagai desa di Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, kian memprihatinkan. Sudah sebulan lamanya rumah-rumah warga “calap” (terendam), membuat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lumpuh total.
Dua desa dilaporkan mengalami dampak parah, yakni Desa Sampurna dan Desa Bahandang. Di sana, jalanan hampir tak terlihat lagi karena tertutup luapan air yang tak kunjung surut.
Jalan Putus, Jukung Jadi Andalan
Lantaran akses jalan darat sudah tidak bisa lagi dilalui sepeda motor apalagi mobil, warga kini terpaksa beralih menggunakan jukung (perahu kecil) untuk sekadar keluar rumah atau mencari kebutuhan pokok.
“Wilayah kami sekarang cukup terisolasi. Banyak akses jalan darat yang putus total karena terendam air cukup dalam,” ungkap Pembakal (Kepala Desa) Sampurna, Mukhtar, Kamis (15/1/2026) saat menerima bantuan Pemprov Kalsel.
2.200 Keluarga Terdampak
Camat Jejangkit, Ardian, membeberkan skala bencana yang melanda wilayahnya. Tercatat ada sekitar 2.200 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 7 desa kini tengah berjuang di tengah kepungan banjir.
“Ekonomi warga terhambat karena akses jalan putus. Prioritas kami saat ini adalah memastikan bantuan logistik dan layanan kesehatan tetap berjalan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak,” jelas Ardian.
Pihak kecamatan pun terus berkoordinasi intens dengan Pemerintah Provinsi Kalsel agar bantuan tidak terhenti.
“Kami Hanya Ingin Hidup Normal Kembali”
Rasa lelah mulai nampak di wajah para penyintas banjir. Salah satunya Warsinah (48), warga Desa Sampurna. Baginya, satu bulan hidup di dalam rumah yang terendam adalah ujian berat yang sangat melelahkan.
“Kami cuma berharap banjir ini segera surut. Kami ingin bisa beraktivitas normal lagi, bekerja dan mengurus rumah,” harap Warsinah.
Hingga saat ini, warga hanya bisa bertahan sembari memantau debit air, berharap curah hujan menurun agar wilayah Jejangkit tidak lagi terisolasi. Ary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *