Jejakborneonews.com, KABUPATEN BANJAR – Banjir yang mengepung Desa Pembantanan, Kecamatan Sungai Tabuk, benar-benar menguji kesabaran warga. Sudah lebih dari dua minggu, sejak Desember 2025 lalu, warga hidup dalam kepungan air. Sebuah video yang viral pada Selasa (13/1/2026) memperlihatkan potret pilu sekaligus ketangguhan warga setempat: mereka terpaksa guring (tidur) di atas jukung.
Dalam video tersebut, tampak sejumlah pria melewatkan malam di atas perahu kecil yang mengapung di atas desa mereka yang tenggelam. Tanpa kasur empuk, hanya beralaskan kayu jukung sambil memandang langit malam, mereka bertahan di tengah udara dingin demi menjaga harta benda dan kampung halaman yang kini praktis lumpuh total.
Alasan Bertahan di Tengah Banjir
Meski ratusan warga lain sudah dievakuasi ke titik pengungsian, para pria di Desa Pembantanan ini memilih tetap tinggal.
“Harus ada yang berjaga-jaga di kampung. Meskipun rumah sudah calap (tenggelam) sampai ke dalam, kami tidak bisa meninggalkan begitu saja,” ungkap salah satu warga dalam narasi yang beredar.
Desa Pembantanan memang menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah di Kecamatan Sungai Tabuk. Jangankan jalanan, masjid yang menjadi pusat ibadah warga pun kini terendam air dan tidak bisa lagi digunakan.
Sungai Tabuk Darurat: 26 Ribu Jiwa Terdampak
Kondisi di Pembantanan hanyalah puncak gunung es dari bencana banjir yang meluas di Kabupaten Banjar. Data terbaru menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan:
* Wilayah Terdampak: 21 Desa di Kecamatan Sungai Tabuk.
* Warga Terdampak: 26.988 jiwa atau sekitar 9.600 Kepala Keluarga (KK).
* Ketinggian Air: Bervariasi, mulai dari semata kaki hingga setinggi pinggang orang dewasa di dalam rumah.
Ratusan Warga Mulai Mengungsi
Bagi kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan balita, bertahan di rumah sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Saat ini, tercatat ada tiga titik pengungsian utama yang mulai penuh sesak:
* Eks Gedung UGD Puskesmas Sungai Tabuk Keramat: Menampung 301 jiwa.
* Gedung SD Abumbun Jaya: Menampung 43 jiwa.
* Kios Desa Abumbun Jaya: Menampung 10 jiwa.
Rata-rata warga sudah berada di pengungsian selama 4 hingga 9 hari. Mereka sangat bergantung pada bantuan logistik dan obat-obatan.
Imbauan Waspada Air Susulan
Kabid Penanganan Bencana Dinsos Kalsel, H. Achmadi, terus mengimbau warga agar tidak lengah. Mengingat cuaca yang masih fluktuatif, potensi kenaikan muka air susulan masih bisa terjadi kapan saja.
“Kami terus memantau di lapangan. Tetap waspada, utamakan keselamatan jiwa. Semoga cuaca segera membaik agar air cepat surut dan warga bisa kembali ke rumah,” harapnya. Ary
Rumah ‘Calap’! Warga Pembantanan Terpaksa Tidur di Atas Jukung











