BerandaBerita NasionalHumanioraLintas KalselPeristiwa

Petambak di Kelumpang Selatan Selamat Dari Terkaman Buaya

271
×

Petambak di Kelumpang Selatan Selamat Dari Terkaman Buaya

Sebarkan artikel ini

Foto/BanjarmasinPost.co.id
Jejakborneonews.com, KOTABARU – Ketenangan warga Desa Pantai, Kecamatan Kelumpang Selatan, Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan, mendadak berubah menjadi kepanikan pada Sabtu (7/2/2026) subuh. Seorang petambak bernama Saharudin (RT 10) menjadi korban keganasan predator air saat sedang beraktivitas.
Detik-Detik Serangan Fajar
Peristiwa bermula saat suasana masih remang-remang. Saharudin turun ke tambak miliknya dengan maksud rutin, yakni membuka pintu air. Namun, maut rupanya sudah mengintai di balik riak air tambak.
Baru saja mendekati pintu air, seekor buaya berukuran cukup besar mendadak muncul dan langsung menyambar pergelangan kaki kiri korban. Serangan yang begitu cepat itu sempat membuat korban terkejut, namun naluri bertahan hidupnya segera bangkit.
Perlawanan Sengit di Dalam Air
Saharudin tidak menyerah begitu saja. Di tengah rasa sakit yang luar biasa akibat gigitan rahang buaya, ia dikabarkan sempat melakukan perlawanan sengit. Upaya kerasnya membuahkan hasil; sang reptil akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Dengan kondisi luka parah dan sisa tenaga yang ada, Saharudin berusaha lari tergopoh-gopoh menuju pondok terdekat untuk berteriak meminta pertolongan.
Evakuasi dan Kondisi Korban
Beruntung, warga sekitar yang mendengar teriakan korban langsung bertindak cepat. Saharudin segera dievakuasi ke Puskesmas Pantai untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Dilansir laman Banjarmasinpost.co.id, Kepala Desa Pantai, Hamiansyah, mengonfirmasi kejadian tersebut. Namun, karena luka robek yang diderita korban cukup dalam dan serius, penanganan medis harus berlanjut.
“Korban harus dirujuk ke RSUD Pangeran Jaya Sumitra Kotabaru untuk perawatan lebih lanjut karena lukanya cukup parah,” ungkap Hamiansyah.

Imbauan bagi Warga
Menanggapi peristiwa mengerikan ini, pihak pemerintah desa meminta seluruh masyarakat, terutama para petambak dan mereka yang beraktivitas di sekitar sungai, untuk ekstra waspada.
Keberadaan buaya di area tambak menjadi ancaman nyata, terutama pada waktu-waktu rawan seperti subuh dan malam hari saat jarak pandang terbatas. Ary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *